Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 14 Maret 2012

sulawesi tengah



Di dusun Wera sekitar 10 km dari Tentena terdapat pemandangan alam indah mempesona dan jarang pemandangan serupa kita temukan di wilayah Indonesia lainnya, namanya air terjun Saloupa. Kenapa saya katakana akan jarang kita temukan di wilayah lain Indonesia karena terdiri dari 7 tingkat dan dalam selayang pandang tingkatan itu bisa kita lihat jatuhnya air.


Menuju tempat ini tidak terlalu sulit , biasanya kalau mau melihat dan menikmati pemandangan air terjun, diperlukan jarak tempuh yang lebih jauh ke atas bukit atau lembah dan berbatu-batu seperti air terjun di desa Wera, Kabupan Sigi, Nama dusunnya memang sama-sama Wera yang arti katanya sungai dalam bahasa Da’a (salah satu Kaili).

Lokasi air terjun Saloupa dapat kita tempuh dengan kendaraan roda 4 atau roda 2, sepanjang jalan menuju desa Wera dari kota Tentena sebagai pusatKecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, masih bisa menikmati hamparan sawah yang indah dan luas garapan penduduk dan deretan kebun-kebun coklat milik masyarakat sekitar.

Mau masuk ke lokasi air terjun, pemerintah setempat membuat pintu khusus untuk masuk dan harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 200 meter untuk menjangkau air terjunnya secara langsung.

Pengunjung juga bisa bermain dan mandi di lokasi ini, karena jarak jatuhnya air dari tiap ketinggian hanya sekitar 2-4 meter maka terasa tidak terlalu kuat menekan tubuh mungkin kalau mau dipijat secara alami bolehlah menaruh tubuh anda dibawah pancuran air yang turun yang dari sana kuman-kuman dan daki tubuh kita akan mengalir ke Danau Poso.

Yang menarik juga dibawah batu-batu besar yang menyanggah belaian air ini terdapat juga goa yang bisa dimasuki dan digenangi air juga, namun karena tertutup jatuhan air keberadaan goa ini belum banyak diketahui kebanyakan orang.

Tempat ini memang agak sepi, ketika kami berkunjung memang tidak ada petugas jaga yang bisanya menagih Rp 5.000 per orang dan pengunjung lain juga tidak ada pada saat kunjungan kami sehingga kami “melenggang kangkung” saja masuk tanpa ba-bi-bu. Bila dikatakan tidak ada yang merawat kayaknya nggak juga karena di beberapa tempat terdapat karung plastikyang bertuliskan ”Buanglah sampah pada tempatnya”. Masyarakat sekitar tempat ini juga tidak terlihat ada di sekitar air terjun ini walau disepanjang jalan setapak terdapat juga tanaman coklat dan jagung.

Bila dibandingkan dengan kunjungan saya bulan Oktober tahun 2010 lalu debet air yang tercurah sepertinya berkurang karena tidak semua permukaan batu tetutup lagi, namun saya tidak ukur tekanannya bah….

Foto ini mungkin bisa menyaksikannya. Saya tidak tahu juga penyebabnya, semoga tidak terjadi perusakan hutan dan penambangan bahan galian yang tidak bertanggung jawab di sekitarnya, karena sewaktu kembali ke Kota Tentena di depan kendaraan yang membawa kami ada 4 iring-iringan truk yang membawa batu dan kerikil yang katanya akan didrop ke proyek PLTA Bukaka di Sulewana, masih di Kecamatan Pamona Utara.

Berharap pemerintah bermitra dengan masyarakat sekitar bisa mengelola lokasi wisata ini dengan lebih baik dan promosi yang lebih gencar. Saya membayangkan betapa menyedihkan bila suatu saat anugerah Tuhan dengan keindahan alam air terjun Saloupa ini hanya tinggal kenangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar